Sabtu, 17 Maret 2012

LARANGAN MENGKAFIRKAN SESAMA ORANG ISLAM


Sesungguhnya mengkafirkan orang islam (orang-orang yang telah mengucapkan kalimat “La ilaaha illallah”)merupakan perkara yang berat. Di dalam hadits yang shoheh disebutkan :
sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda, “Apabila seseorang mengkafirkan saudara sesamanya, maka pengkafiran itu pasti menimpa kepada salah satunya. Jika yang dikafirkan itu memang kafir, maka ia kafir. Jika yang dikafirkan tidak kafir, maka kekafiran itu kembali menimpa kepada orang yang mengkafirkan.”” (H.R Imam Muslim).

Imam Abu Bakar al Baqilani mengatakan, “Memasukkan seribu orang kafir kedalam Islam karena ada kemiripan Islam dalam satu hal saja itu lebih kecil resikonya daripada mengkafirkan seorang muslim karena ada seribu kemiripan kekafiran”
Lalu bagaimana halnya dengan orang yang berani mengkafirkan mayoritas orang muslim dan menghukuminya syirik yang akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia hanya karena mereka melakukan tawassul dan mengambil berkah peninggalan orang-orang baik sementara keimanan mereka telah jelas nyata dan hati mereka tetap meng-Esakan Allah, orang-orang yang berpendirian seperti itu adalah orang-orang yang di dalamnya sarat dengan paham-paham yang keliru. Sebagaimana sabda Rasullullah saw:

sesungguhnya syetan benar benar putus asa dalam usahanya agar disembah oleh orang-orang yang menjalankan sholat di semenanjung Arab, tapi syetan mengambil cara adu domba di antara mereka,” (H.R Imam Muslim dan AtiTurmudzi).

Na’udzubillah,,,,jangan sampai kita mengkafirkan sesama muslim (golongan umat muslim) dalam hal apa pun hanya karena tidak sepaham dengan amalan yang kita kerjakan. Pastilah syetan merasa puas telah berhasil mengadu domba umat muslim.

Semoga Bermanfaat
(sumber: aqidah ASWAJA karangan Al Habib Zainal Al Alawy)

Jumat, 16 Maret 2012

MEMPERINGATI MAULID NABI SAW


Nabi Muhammad dilahirkan di kota Makkah pada hari senin tanggal 12 Rabiul awal (20 April 517M)lima puluh malam sesudah peristiwa pasukan gajah menyerang Ka’bah. Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abu Mutholib keturunan dari Nabi Ismail dan ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf dari keluarga Zahrah. Ayahnya telah meninggal sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad. Sementara ibunya meninggal ketika baginda berusia kira-kira enam tahun, menjadikannya seorang anak yatim piatu. Menurut tradisi keluarga orang Mekah, baginda dipelihara oleh seorang ibu angkat(ibu susu:-wanita yang menyusukan baginda) yang bernama Halimahtus Sa'adiah. kampung halamannya di pegunungan selama beberapa tahun. Dalam tahun-tahun itu, baginda telah dibawa ke Makkah untuk mengunjungi ibunya. Setelah ibunya meninggal, baginda dijaga oleh kakeknya, Abdul Muthalib. karena kakeknya juga meninggal, baginda dijaga oleh bapa saudaranya, Abu Talib. Ketika inilah baginda sering kali membantu mengembala kambing-kambing bapa saudaranya di sekitar Mekah dan kerap sekali menemani dalam urusan perdagangan ke Syam (Syria).

Merayakan Atau Memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang diisi dengan acara menceritakan kembali kisah-kisah Nabi Muhammad SAW, mulai dari detik-detik kelahirannya, tanda-tanda dan mu’jizat-mu’jizatnya dihadapan orang banyak dalam suatu pertemuan, pemberian sedekah dan memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau merupakan salah satu perbuatan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) dan akan mendapatkan pahala karena memuliakan Rasullullah saw.

Al-Hafidz Syamsuddin Al-Jazri berkata,” Abu Lahab setelah meninggal diimpikan dan ditanyakan kepdanya, “bagimana keadaanmu?” Ia menjawab, ‘saya di neraka, hanya saja setiap malam Senin saya mendapatkan keringanan siksaan dan dapat dapat menghisap air di antara jari jemari sebanyak ujung jari. Hal keringanan ini karena saya pernah membebaskan Tsuwaibah, budakku, ketika ia memberitakan kelahiran Nabi Muhammad, dan karena Tsuwaibah menyusuinya.’ Jika Abu Lahab yang kafir yang dipastikan kekafirannya oleh Allha dalam AL-quran mendapat keringanan siksaan di neraka sebab rasa senangnya pada malam kelahiran Nabi Muhammad, maka bagaimana kiranya umat Nabi yang beragama islam yang berasa bahagia dengan kelahirannya dan mendermakan apa yang dimilikinya demi cinta kepada beliau??Balasannya hanya dari Allah.berupa masuk surga sebab anugerah-Nya.

Rabu, 14 Maret 2012

BID’AH



Segala sesuatu yang tidak dilakukan/belum ada pada zaman Nabi di sebut Bid’ah. Para ulama mengklasifikasikan bid’ah menjadi 2 bagian, yaitu: bid’ah Hasanah dan Bid’ah Qahibah.
1.     Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik): apa saja yang dipandang oleh para imam yang sesuai dengan Al-quran dan As-sunnah dalam hal kemanfaatan dan kemashlahatan. Seperti pengumpulan Al-quran dalam suatu mushaf, berkumpulnya orang-orang untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan, adzan awal pada hari Jumat, mengadakan pesantren dan sekolah, serta semua kebaikan yang tidak diketahui pada zaman Nabi. Semuanya termasuk bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) dan orang yang mengerjakannya akan diberi pahala.
2.    Bid’ah Qahibah (bid’ah yang tercela): setiap amalan yang bertentangan dengan nash-nash Al-quran dan As-sunnah atau yang menentang ijma’ umat islam, seperti madzhab-madzhab yang sesat dan akidah-akidah yang menyimpang.